Masyarakat Buru Rumah Tapak di Pinggiran Medan

Sabtu, 31 Mei 20140 komentar

reisumut.com - Medan

Menyusul akan diberlakukannya penghapusan subsidi KPR atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) untuk rumah sejahtera tapak (RST) mulai April tahun 2015, menyebabkan permintaan rumah di daerah pinggiran Kota Medan menjadi rebutan.
Masyarakat terus memburunya. Masyarakat menilai saat ini merupakan saat yang tepat membeli rumah tapak subsidi. "Ini kesempatan yang bagus, tahun depan sudah naik," kata Ridwan, seorang pembeli rumah di salah satu desa di Pancur Batu, Deliserdang, baru-baru ini.

Sebelumnya, penghapusan KPR FLPP itu diaturkan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemepera) dalam Permenpera Nomor 3 Tahun 2014 tentang Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera.

Dikeluarkan juga Permenpera Nomor 4 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dan Permenpera Nomor 5 Tahun 2014 tentang Proporsi Pendanaan Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera.

Aturan tersebut juga menetapkan kenaikan rumah harga subsidi per provinsi. Di Sumut, harga RST KPR FLPP naik maksimal menjadi Rp 117 juta per unit dari harga sebelumnya sebesar Rp 88 juta per unit. Kenaikan harga untuk penyesuaian harga terjadi karena semakin naiknya harga lahan, harga bahan material dan upah pekerja.

Seorang pembeli lainnya, Sudin, menyebutkan, niatnya memiliki rumah karena dirinya belum memiliki rumah sama sekali. "Nggak, nggak tahu kalau tahun depan udah nggak disubsidi pemerintah," katanya.

Dari pantauan MedanBisnis, sejumlah proyek pembangunan rumah tapak subsidi, memang mulai menjamur di kawasan Pancur Batu, Medan Tuntungan, Tanjung Anom, Kutalimbaru, Sunggal, dan lainnya.

Sebelumnya, Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Sumut, Umar Husin mengatakan, mulai tingginya permintaan rumah setapak saat ini, bisa saja memang karena pengaruh isu penghapusan subsidi.

Namun dia lebih meyakini bahwa mulai tingginya permintaan rumah subsidi itu akibat masih banyaknya masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah. "Saya kira lebih karena hal ini," katanya.

Ditambahkan, penyesuaian harga rumah mulai mendorong bergairahnya kembali para pengembang menyediakan rumah tapak subsidi. Hanya saja saat ini, konsumen sangat mengharapkan Kementerian Keuangan RI segera menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) agar tidak memberatkan konsumen. (medanbisnisdaily)

Share this article :
 
Copyright © 2014. DPD REI SUMATERA UTARA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website